
Syeikh as-Sudais Ingatkan Dai Harus Lembah Lembut
I
Wednesday, 30 December 2009 13:33 Nasional
Hidayatullah.com--Penasihat Kerajaan Arab Saudi, Dr. Abdullah Muhammad al-Muthlaq, mengimbau para dai di Indonesia agar menjauhi perselisihan dan saling berbantah-bantahan. Karena hal tersebut akan membuat kerja dakwah terabaikan.
Hal tersebut disampaikannya pada acara pertemuan dengan para dai dari sejumlah ormas Islam dan pondok pesantren di Gedung Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia Pusat, Jakarta, kemarin.
Syeikh Muthlaq mengatakan, perselisihan di antara para dai adalah hasil pekerjaan syetan untuk merusak dakwah Islam. “Ketika seorang dai sibuk dengan kesalahan dai yang lain, dia akan kumpulkan aib dai tersebut lalu menyebarkannya. Maka akibat itulah dia meninggalkan dakwah,” kata Syeikh Muthlaq.
Mengutip sabda Rasulullah shalallahi 'alahi wassallaam, Syeikh Muthlaq mengatakan, “Sesungguhnya syetan telah putusa asa untuk bisa disembah di jazirah Arab. Akan tetapi berusaha memecah belah mereka.”
Syeikh menjelaskan, usaha syetan menghalang para dai kepada kesesatan sangat besar ketimbang usahanya kepada manusia awam. Karena dengan perantaraan para dai, Allah memperbaiki agama manusia, dan dengan para dai pula sunnah Rasulullah SAW disebarkan.
Untuk itu Syeikh menyemangati para dai agar jangan berhenti berdakwah hingga maut menjemput. Karena dakwah adalah jihad yang besar, dan merupakan jalan termudah menuju surga.
Kata Syeikh, hal ini didasari firman Allah dalam Surat al-Furqan (25) ayat 52, “Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan jihad yang besar.”
Syeikh menjelaskan, Surat al-Furqan diturunkan di Mekah, yaitu masa belum disyariatkan jihad dengan berperang. Sedangkan jihad ketika di Mekah adalah berdakwah dengan Al-Quran.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Imam Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais yang datang beberapa saat sebelum shalat Isya. Syeikh as-Sudais mewakili kerajaan Arab Saudi menyampaikan kepada segenap bangsa Indonesia atas sambutan hangat dan kerjasamanya dalam penyelenggaraan Musabaqah Hafalan al-Qur`an dan al-Hadits yang berlangsung di Jakarta sejak tanggal 9 – 11 Muharram 1431 / 26 – 29 Desember 2009.
Menambahkan Syeikh Muthlaq, Syeikh as-Sudais juga mengingatkan para dai tentang pentingnya 'ilmun nafi' , atau ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu tentang syariah adalah senjata para dai, sekaligus alat untuk membedakan kebenaran dan kebatilan.
Syeikh as-Sudais juga sempat mengucapkan kata “terima kasih” ketika mengakhiri ceramahnya. Pada kesempatan itu, Syeikh as-Sudais didaulat menjadi imam shalat Isya. Pada rakaat kesatu dan kedua, Syeikh membaca Surat Ali 'Imran (3) ayat 102 hingga ayat 111.
Dengan Senyum
Sementara itu, Imam Besar Masjidil Haram Syeikh Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais an-Najdi, mengatakan, dai juga harus senantiasa Al-i'tidal (bersikap tegak lurus dan selalu condong kepada kebenaran) dan Wasatho (bersatu).
Sebab dengan itu semua, dai akan mendapatkan hasil dari dakwahnya. Sebab itu ia menyeru kepada dai untuk menempuh jalan ini.
"Yakni jalan yang di dalamnya ada senyuman, ada kelemahlembutan, baik dalam perkataan dan dalam kehidupan mereka," ujar Syeikh as-Sudais.
Dia juga mengingatkan agar umat Islam senantiasa menjaga persatuan, sebagaimana umat ini adalah umat yang satu. Ia juga meminta memperhatikan pendidikan kepada generasi Islam. Tugas umat Islam semua untuk melaksanakan pembinaan generasi yang ada saat ini. Olehnya, kepada dai ia berpesan agar mereka berusaha semaksimal kemampuan untuk membawa ad-din ini kepada generasi selanjutnya.
Dalam pidatonya tersebut, Syeikh Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais an-Najdi mengucapkan rasa terima kasihnya kepada masyarakat dan bangsa Indonesia atas sambutannya yang luar biasa. Termasuk kepada pemerintah yang telah mendukung gerakan dakwah Islam di Indonesia.
Kedatangan imam yang suaranya terkenal sangat masyhur ini dalam rangka ziarah (bersilaturrahim), sekaligus menghadiri kegiatan Musabaqah Hafalan Al-Quran dan Hadits (MHQH) tingkat ASEAN di Indonesia.
Musabaqah yang dilaksanakan sejak tanggal 26 hingga 29 Desember tersebut diselenggarakan oleh Atase Agama Kerajaan Saudi Arabia, bekerjasama dengan Departemen Agama Republik Indonesia. [sur/ain/www.hidayatullah.com]
ترجمة هذا الخبر
Musabaqah Hafalan Quran ASEAN Ditutup
Wednesday, 30 December 2009 17:20 Nasional
Menurut Presiden SBY, terselenggaranya musabaqah tersebut diharapkan bisa menjalin persaudaraan Islam di Asia Tenggara dan Asia

Hidayatullah.com--Penutupan tersebut dirangkai acara peresmian Masjid At-Tauhid Arief Rahman Hakim, Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta.
Dalam sambutannya, Presiden mengatakan, Musabaqah Hafalan Al-Quran dan Hadits yang kesekian kalinya digelar di Jakarta ini, merupakan bukti eratnya hubungan bilateral Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia.
Menurut Presiden, kegiatan Musabaqah Hafalan Al-Quran dan Hadits merupakan usulannya bersama Hidayat Nur Wahid (mantan Ketua MPR) kepada Pangeran Sultan Abdullah bin Abdul Aziz Alu Su'ud.
Dengan terselenggaranya musabaqah tersebut, lanjut Presiden, diharapkan bisa terjalin persaudaraan Islam di Asia Tenggara dan Asia pada umumnya. "Ini kebahagiaan bagi kami atas terselenggaranya kegiatan ini," ujarnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa Al-Quran mengandung nilai agung, mengajarkan keimanan, dan menuntun akhlak manusia secara individu dan sosial.
Eksistensi Al-Quran sejatinya memiliki fungsi teramat penting. Ada tiga hal fungsi Al-Quran sebagai penuntun.
"Al-Quran merupakan petunjuk keimanan, menuntun syariat kepada Tuhan dan manusia, dan merupakan tuntunan akhlak kepada Allah, manusia, dan lingkungan," kata Presiden.
Ketiga hal itu merupakan kaitan dalam iman, Islam, dan ikhsan. Selain itu, pemahaman Al-Quran tidak bisa utuh tanpa pemahaman hadits.
Menurut Presiden, hadits merupakan penjelas makna apa yang terkandung di dalam Al-Quran, serta menjadi sumber pedoman hidup yang tak bisa dipisahkan dari umat manusia. [rep/ain/www.hidayatullah.com]ترجمة هذا الخبر